Selasa, 10 September 2019

3 Alasan Mengapa Pengusaha Pemula Sulit Maju


Ilustrasi
Sejujurnya saya merasa tidak layak untuk menuliskan artikel ini, karena siapalah saya? Hanya seorang pengusaha pemula yang belum dikenal orang bahkan tidak punya titel sarjana ekonomi, manajemen, maupun bisnis. Memulai bisnis pun baru sekitar akhir 2016, namun perkembangannya berjalan sangat lambat bahkan nyaris mati suri.

Namun, setelah saya pikir-pikir justru dari sanalah saya belajar banyak, mengapa bisnis saya tidak berkembang? Kenapa bisnis saya terasa stag di tempat? Atau malah nggak yakin untuk dipertahankan? Berikut saya rangkum menjadi tiga alasan:

1. TIDAK TERATUR
Seperti yang sudah saya bilang di atas, saya memulai bisnis sejak Oktober 2016. Singkat cerita, setelah lulus kuliah saya sempat menganggur dua bulan sehingga saya memutuskan untuk mulai usaha buket bunga wisuda bersama teman. Dengan modal seadanya, kami mulai berjualan secara online di instagram @nousbouquet dan beberapa media sosial lain, namun karena masih pemula, buket bunga yang kami jual pun sering dapat kritikan.

Namun, belum lama kami berjualan teman saya mulai sibuk skripsi, dan saya dapat kerja kantoran. Waktu yang tidak cocok untuk bertemu, dan berbagai hal lain yang membuat Nous Bouquet akhirnya berkepemilikan tunggal, yaitu saya.

Ilustrasi
Sempat mati suri selama tahun 2017, karena saya kesulitan membagi waktu antara mengerjakan tugas kantor dan membuat buket bunga. Tapi untuk menggulung tikar rasanya sayang, karena beberapa bahan untuk membuat buket masih tersisa banyak dan sesekali ada customer yang order buket bunga. Maka, akhir tahun 2017 sampai 2018 saya memaksakan diri untuk kembali menerima orderan bunga. Kadang ada, kadang kosong, sekalinya ada kadang bisa sampai 10 orderan selama 1 minggu, namun karena keterbatasan waktu saya kerap menolak orderan. Karena keterbatasan waktu dan tenaga pula, saya jarang membuat stok buket yang ready dan mengharuskan customer untuk pre-order 3-4 hari.
Jadi, bila disimpulkan, saat usaha yang kita jalankan sering tutup order seenaknya/ tidak memiliki waktu yang pasti, customer bisa bingung/malah beranggapan bahwa bisnis kita hanya main-main alias tidak profesional. Ditambah waktu pre-order yang cukup lama, tanpa stok barang, membuat customer berpikir ulang untuk melakukan order di tempat usaha kita.

2. UANG PRIBADI DAN MODAL BISNIS BERCAMPUR
Selain, jam buka dan tutup yang tidak disiplin. Hal yang paling penting dalam berbisnis adalah pengaturan keuangan. Jujur, selama bekerja kantoran, saya tidak bisa melihat dengan jelas berapa profit yang saya dapatkan dari penjualan buket bunga atau berapa omset yang saya hasilkan. Semua keuangan antara gaji kantor dan Nous Bouquet bercampur jadi satu. Kacau!

Pertanyaannya, seberapa penting pengusaha pemula membagi keuangan bisnisnya? Dan bagaimana cara memisahkannya?

Ilustrasi

Ketika uang sudah bercampur dan saya tidak punya catatan keluar masuk barang, saya kerap menggunakan uang hasil penjualan buket untuk keperluan pribadi. Semuanya, ya semuanya tanpa dipisahkan mana modal mana keuntungan. Bagi saya, apa yang saya dapat hari itu adalah uang saya dan bisa saya pakai sesuai kemauan saya. Pun ketika saya mau membeli bahan baku, saya menggunakan uang dari ATM meski uang tersebut dari gaji saya. Seandainya saya sama sekali tidak bekerja, dan masih menggunakan cara tersebut sampai sekarang, bisa dipastikan bisnis saya sudah bangkrut!

Akhirnya, (setelah menonton banyak video sharing dari media sosial) saya mulai membagi keuangan bisnis Nous Bouquet menjadi: Modal, Operasional, Profit.

Modal adalah uang untuk kebutuhan bahan baku, tidak boleh diganggu gugat! Hanya boleh diputar untuk membeli bahan baku saja.

Operasional adalah modal jangka panjang seperti membeli alat lem tembak, tang pemutus kawat, gunting, stiker, banner, dll yang bisa digunakan lama. Bisa juga untuk membayar sesuatu yang bersifat continou seperti sewa ruko, listrik, kuota internet bulanan, gaji karyawan, dll.

Profit adalah keuntungan yang bisa saya gunakan untuk diri sendiri.

Toko Nous Bouquet

Sejak resign kerja (akhir 2018), saya juga menggunakan salah satu aplikasi catatan penjualan dari google playstore untuk membantu memisahkan keuangan bisnis, cukup yang sederhana saja karena masih usaha kecil. Sehingga jika sewaktu-waktu saja kepepet butuh uang dan yang tersisa hanya modal, maka saya boleh menggunakan modal tersebut dengan catatan, modal WAJIB dikembalikan segera apabila saya dapat uang/profit.

Hal ini berlaku juga untuk jasa pengiriman. Bagi customer yang tinggalnya jauh dari toko, terpaksa harus menambah biaya untuk ongkos kirim. Kadang ongkir ditransfer berbarengan dengan pembelian buket sehingga ketika saya hendak mengirim barang, saya suka memakai uang cash yang tersedia dibanding mengambil duit di ATM terlebih dulu.

Jujur, saya terbantu dengan adanya resi saat melakukan pengiriman keluar kota secara reguler. Sehingga saya punya catatan berapa nominal uang cash yang terpakai untuk ongkir. Sedangkan pengiriman instan kurir?

Saya terbiasa memakai Grab Express, baik yang instan maupum sameday sesuai persetujuan customer. Karena Grab memiliki ongkir lebih murah 5-10 ribu dibanding instan kurir lain. Tentu saja lebih banyak promonya. Karena walau bukan Nous Bouquet yang membayar, tapi ongkir yang mahal kadang menjadi pertimbangan customer untuk membeli buket bunga.

Driver Grab yang akan
mengantar barang

Tapi kabar baiknya, aplikasi Grab kini punya fitur baru yang berguna bagi para pengusaha, yaitu Grab for Bussiness. Kalau selama ini, kita mengirim orderan dan menggunakan Grab untuk kebutuhan pribadi dalam satu akun, maka kita bisa memisahkannya dengan Profil Bisnis.

Maksudnya, kita (sebagai pengusaha) bisa memisahkan perjalanan bisnis dengan perjalanan pribadi, sehingga pengeluaran antara bisnis dan pribadi tidak tercampur.

Caranya adalah dengan membuka pengaturan Edit Profil > verifikasi alamat email > tambahkan email bisnis.

   

Tak ada perbedaan signifikan dengan cara kita melakukan orderan. Sama seperti biasa, tinggal pilih Grab Express, pilih tempat pengambilan barang, tempat tujuan, estimasi harga, nah paling penting: GANTI  TAG PRIBADI menjadi TAG BISNIS. Order deh!

 

Nantinya setiap seminggu/sebulan sekali, Grab for Bussiness akan mengirimi kita email laporan hasil perjalanan bisnis tersebut. Jangan lupa ubah di pengaturan ya!

 

Saya sudah beberapa kali pakai Tag Bisnis, seperti screenshoot di atas (hasil laporan email dari Grab for Bussines). Selain menjadi catatan bisnis, semakin banyak kita menggunakan tag bisnis, kita bisa dapat rewards lho.

Kode: UNTUNGAJA
3-4 kali tag bisnis perminggu: dapat diskon 15.000 untuk 2x pemakaian.
Kode: UNTUNGLUMAYAN
5-6 kali tag bisnis perminggu: dapat diakon 15.000 untuk 4x pemakaian.
Kode: UNTUNGBANGET
> 7 kali tag bisnis perminggu: dapat diskon 15.000 untuk 6x pemakaian.

Pemakaian kode hanya bisa dipakai pada hari Rabu dengan syarat jumlah tag bisnis terpenuhi. Oh iya, pemakaian tag bisnis ini nggak cuma untuk Grab Express kok, bisa dipakai untuk GrabCar dan GrabBike juga. Walaupun rewards yang saya tulis di atas hanya berlaku sampai akhir September 2019 saja, kabarnya rewards akan terus diperbaharui pada periode berikutnya. Kita tunggu aja.

3. TIDAK PUNYA TARGET 10 TAHUN KE DEPAN
Ilustrasi

Mungkin yang membedakan antara pengusaha pemula dan profesional adalah kemauan untuk berkembang. Terkadang, orang-orang berani memulai bisnis tapi tidak berani mengembangkan di luar batas bayangannya. Maksudnya, dia hanya berbisnis untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk "menjadi kaya" "membesarkan perusahaan" "membangun cabang" dan semacamnya.

Dalam sebuah sharing Ngobrol Produktif Bareng Grab, Shanti Iriani (Corporate Culture Partner Grab Indonesia) pernah berkata, "Setiap orang punya kesempatan dalam menemukan potensi yang dimilikinya, dan saat potensi itu sudah ditemukan, dia harus berani mengembangkannya."

Jika mengingat dulunya aplikasi Grab hanya ada GrabCar, GrabBike, dan Grab Express, kini kita bisa melihat begitu banyak perkembangan yang terjadi selama beberapa tahun dalam aplikasi ojek online ini. Ada widget-widget seperti horoskop, challenges, kumpulan berita, dll bahkan dengan bertambahnya fitur Grab for Bussiness, Grab berharap bisa membantu para pengusaha agar lebih mudah mengontrol budget pengeluaran mereka.

Begitu pula dengan kita, saat kita sudah menemukan bisnis yang tepat, pasar yang tepat, kita harus berani menjadi cenayang memikirkan apa yang akan kita lakukan 5-10 tahun ke depan terhadap bisnis kita. Mau jadi seperti apa?


Nous Bouquet sendiri terus berupaya untuk lebih kreatif dalam membuat buket-buket model baru. Berusaha unggul di kawasan Jabodetabek, khususnya Ciracas, Jakarta Timur dengan cara menggunakan  google my bussiness sehingga customer bisa melakukan pencarian melalui google maps. Target ke depannya, saya ingin Nous Bouquet memiliki karyawan dan reseller, bahkan cabang khusus bunga asli (fresh flower) karena bahan baku pembuatan bunga selama ini adalah kain flanel.

 

Pada intinya, jangan pernah takut untuk berkembang dan terus maju. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Saya pun masih perlu banyak belajar soal bisnis, jadi just sharing ya, no bully-bully. 😁

Semangat!


12 komentar:

Suryana mengatakan...

Semoga semakin maju usahanya aamiin

Winni budianingsih mengatakan...

Terima kasiiiih sudah beri motivasii Nelaaa Fayza������

Unknown mengatakan...

Terimakasih kak . Ini sangat bermanfaat sekali

Nur Rochma mengatakan...

Halo mbak,s alam kenal,

Saya juga punya usaha, namun lebih tepatnya usaha keluarga. Dari awal ada keinginan untuk berkembang namun terbentur oleh bapak. Jadi ya, asal jalan saja. Btw makasih sharingnya.

Who knows? mengatakan...

Tugas kita hanya ikhtiar, jadi lakukan dengan semaksimal mungkin. Nice info to share btw dan sukses buat nous bouquet.

lithaetr mengatakan...

Iya banget kak. Kesalahan mendasar adalah masih menyatukan uang pribadi dengan uang bisnis. Saya masih seperti itu, makanya skrng off dulu, fokus ke yang lain dulu deh 😁

pungkas nurrohman mengatakan...

Wah yang kurang saya lakukan hanya tidak punya target 10 tahun kedepan aja sih. Salam kenal.

Diiiah mengatakan...

Tidak memisahkan keuangan itu memang bahaya banget. Di rumah tangga saja juga harus strict saat memisahkan mana yang harus ditabung, mana yang disedekahkan dan yang bisa dipakai belanja. Apalagi bisnis, ya.

Tira Soekardi mengatakan...

makasih sharingnya

Nina mengatakan...

masuk akal semua, sangat menginspirasi kak.

Renayku mengatakan...

Wah saya dapat insight baru nih karena saya juga pengusaha baru jadi masih harus banyak belajar dari pngalaman orang lain. Semoga sukses ya mba

Ahmad Dzikrullah mengatakan...

buketnya bagus mbak.. btw iya bisnis itu harus benar-benar dikelola dengan baik..

Posting Komentar