Tampilkan postingan dengan label #resensibuku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #resensibuku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Oktober 2017

Islam for Teens 1, Bukunya Kids Jaman Now



Judul buku: Islam for Teens 1: Syahadat dan Beriman
Penerbit: Maghfirah Pustaka
Jumlah Halaman: IV + 134 halaman
Terbitan: Pertama, Agustus 2017

Harga: Rp 49.000

Sebenarnya bukan hal yang sulit mencari buku-buku referensi agama Islam di Indonesia. Toh negara yang bersebelahan dengan Negara Malaysia ini dijuluki sebagai negara penganut Islam terbesar di dunia. Apalagi kitab-kitab tafsir juga sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga bagi kita yang tidak fasih berbahasa Arab pun masih bisa membaca kitab tafsir terjemahan.

Yang menjadi permasalahan, tidak semua buku-buku referensi Islam cocok dengan remaja. Maksudnya, bukunya sudah bagus dan berkualitas, namun terkadang masih kaku dan benar-benar seperti buku pedoman/ buku pelajaran agama. Alhasil remaja lebih banyak membaca novel-novel religi ketimbang buku referensi Islam. Meski tidak masalah, tapi menurut saya informasi yang kita dapatkan dari novel religi tidak sedetail informasi dari buku referensi. Oleh karena itu, buku referensi juga penting untuk menjadi buku bacaan remaja.

Nah, kebetulan beberapa waktu lalu saya membeli buku non-fiksi referensi yang berjudul Islam for Teens 1: Beriman dan Syahadat. Ini adalah seri pertama dari buku serial Islam for Teens. Sedikit bocoran dari penerbit, buku akan mencapai kurang lebih 6 serial dengan mengangkat tema rukun Islam. Buku keduanya, Islam for Teens 2: Thaharah dan Shalat sedang dalam proses cetak. Biar nggak ketinggalan info, kalian bisa pantau di websitenya www.maghfirahpustaka.id

COVER YANG SEGAR
Kalau kita bosan membeli buku-buku agama dengan cover warna netral atau cenderung kalem dan gelap, Islam for Teens 1 justru menyajikan warna kuning yang segar. Terlihat lebih fresh. Ilustrasinya juga terkesan simple, bagian depan cover ada dua tangan yang “melingkari” judul ISLAM for teens dengan bentuk love. Seolah punya dua makna, yaitu kita harus mencintai Islam atau buku Islam for Teens adalah buku yang kudu banget kita sukai hehehe ...

Sedangkan cover cover belakang, masih dengan ilustrasi tangan tapi kali ini berbentuk silang. Di atasnya ada beberapa sifat-sifat negatif yang harus kita jauhi.


Juga blurbnya yang menurut saya asyik banget,

“Refresh your Tauheed. Pernah merasa galau atau belum bisa move on? Insya Allah, ada kunci yang bisa membuat kamu keluar dari masalah. Ini bukan PHP, lho Guys. Kunci itu bernama syahadat. Memahami syahadat dengan baik, Insya Allah akan meningkatkan iman kita. Saat iman bertambah, kita akan paham untuk apa kita hidup dan bagaimana cara kita menjalani hidup. Akhirnya, hidup kita menjadi lebih indah dan mudah."
ISI BUKU
Kalau hanya membaca dari tulisan blurb-nya, kita pasti bisa menebak isi tulisan buku ini seperti apa. “Kayaknya bukunya lumayan nih, nggak kayak buku pelajaran agama yang banyak adalah ialah adalah ialah hehe ...”

Kalau kalian berpikir seperti itu, selamat! Pemikiran kalian benar! Dari halaman pertama buku ini, kita akan disuguhkan komik (walaupun hanya dua halaman) sebagai cerita pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan kisahnya Mush’ab bin Umair bin Hasyim, orang yang ganteng, kaya, parlente, pokoknya mendekati sempurnalah, tapi kemudian harus mengalami ujian berat dihina masyarakat bahkan keluarganya sendiri setelah mengucapkan kalimat syahadat. Duh, kok seram ya? Eitss ... jangan salah, ujian Allah tersebut justru semakin memperkuat iman Mush’ab, lho. Kok bisa? *makanya baca bukunya*

Nah, berhubung buku ini bukan fiksi atau novel, jadi kisah-kisah seperti kisahnya Mush’ab itu hanya selingan, atau semacam ilustrasi dan gambaran atas permasalahan yang akan dibahas di dalam buku ini. Masalah apa saja? Mulai dari masalah “islam warisan” yang bikin galau:
Islam Keturunan, Haruskah bersyahadat lagi?Tidak perlu lagi. Seseorang yang dilahirkan dari orangtua Muslim, telah jelas keislamannya dan diketahui orang. Namun, untuk membuktikan keislaman, kita tetap harus menunjukkannya dengan perbuatan. Ingat ya, iman itu harus diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan. – Halaman 33
Sampai masalah percintaan yang bikin kalian berujung ngemis-ngemis minta tolong ke dukun, duh!


Kita akan menemukan pembahasan yang Insya Allah bisa menambah pengetahuan. Bisa dibilang buku serial ini lumayan menyenangkan untuk dibaca. Karena gaya bahasanya ringan dan cocok untuk kids zaman now. Yang biasanya cepat bosan dan ngantuk kalau disuruh baca buku “adalah ialah adalah ialah” *peace

Terakhir, yang jadi nilai plus, desain layoutnya. Perbandingannya kira-kira 60% tulisan, 40% ilustrasi gambar. Ada banyak kata-kata menarik dan unik yang didesain dengan cantik, bahkan ada tulisan-tulisan grafik yang menurut saya bagus untuk difoto, lalu dijadikan postingan di media sosial.

RALAT:

Kata yang benar adalah ZAMAN bukan jaman :)

Selasa, 02 Mei 2017

Cara Mudah Mempelajari Al-Quran bagi Orang Awam

Cover Buku

Judul buku: Mudah Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 1)
Kategori      : Nonfiksi / Agama Islam
Penerbit       : Maghfirah Pustaka
Penulis         : Tim Penerbit
Tebal buku   : 568 halaman
Cetakan        : Pertama, November 2016

Harga           : Rp 190.000


Mungkin bagi sebagian orang, mempelajari agama itu gampang-gampang susah. Ibarat politik, pembahasan agama adalah persoalan yang sensitif. Terlebih lagi bagi kita yang tinggal di perkotaan, dengan lingkungan yang semakin maju dan berkembang. Masyarakat yang heterogen, dengan berbagai macam suku dan agama bercampur baur.

Saya sendiri tinggal berdampingan dengan orang-orang batak nonmuslim. Sehari-hari kami selalu berusaha menjaga silaturahmi, kerukunan, dan tidak menyinggung agama masing-masing. Saya pikir bukan hanya saya saja yang mengalaminya. Setiap dari kita pasti menginginkan kehidupan penuh toleransi. Bahkan terkadang berusaha sebisa mungkin untuk tidak membahas soal agama ketika berada di tengah masyarakat.

Tapi lama-lama, ketika keinginan bertoleransi itu lebih kuat, kita justru enggan untuk “menyelami” agama sendiri. Dalam arti, kita tetap beribadah kepada-Nya, berbuat baik sebagaimana perintah Allah, namun membatasi dan membiarkan ilmu agama kita segitu-gitu saja. Karena merasa ilmu yang sensitif itu terlalu berat dan sulit untuk kita pahami. Salah-salah menjadi masalah, parahnya bisa dianggap kafir. Nauzubillah minzalik ...

Tapi apakah memang sesulit itu mempelajari agama Islam?
Bukanlah agama Islam yang sulit dipelajari. Akan tetapi pemikiran manusia yang membuat Islam itu terasa rumit. Ditambah dengan kesalahan-kesalahan presepsi yang kerap bercampur baur dengan akidah-akidah Islam, membuat segalanya terlihat samar dan tidak jelas. Ketika kita ingin bertanya, kita kerap tidak menemukan media yang pas. Atau bahkan salah mendapatkan teman diskusi yang akhirnya malah berujung pada perdebatan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللَّهِ ۚ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (al-An'âm [6]: 116)
Tidak ada larangan bagi kita mempelajari atau berdiskusi dengan orang tertentu. Bahkan kita dianjurkan untuk berkumpul dengan orang-orang yang shalih, memperdalam ilmu agama bersama ustadz atau ulama-ulama. Namun, kita juga tidak boleh lupa bahwasannya sumber ilmu yang utama adalah al-Qur'an. Karena kitab suci yang berasal dari Allah itu menuangkan semua peraturan, apa yang boleh, apa yang dilarang, kisah-kisah di masa lalu, dan kisah-kisah yang akan terjadi di masa depan. Mahasuci Allah dengan segala kuasanya.
Tapi sudahkah kita mempelajari al-Qur'an dengan benar? Memaknai ayat-ayat dan artinya dengan baik?
Mungkin di antara kita termasuk saya, pernah merasa bingung atau bahkan ragu memahami ayat dan arti al-Qur'an. Takut salah memaknainya, yang berlanjut salah mengambil tindakan seperti yang terjadi pada kasus-kasus semisal bom bunuh diri.

Karena itulah, sekiranya kita memerlukan bacaan pendukung seperti kumpulan hadist riwayat yang shahih dan kitab-kitab tafsir. Menyoal buku tafsir, Penerbit Maghfirah Pustaka sendiri, sebagai salah satu penerbit buku islam yang telah menerbitkan banyak jenis al-Quran dan buku-buku pedoman Islam lainnya, kini "melahirkan" buku Mudah Tafsir Ibnu Katsir.

Buku terjemahan ini memuat ayat-ayat al-Quran serta kandungan isinya yang dibahas satu persatu ayat, sehingga memberi kesempatan kepada pembaca untuk memahaminya pelan-pelan. Karena dibahas secara satu persatu itulah, buku tersebut akhirnya dibagi menjadi beberapa jilid. Pada jilid 1, buku yang ditulis oleh Ibnu Katsir ini mengupas surah al-Fathihah dan surah al-Baqarah. Buku asalnya memang berbahasa Arab dan tentu saja menyulitkan orang awam untuk membaca. Tapi oleh tim Penerbit Maghfirah Pustaka, buku aslinya diterjemahkan dengan begitu baik sehingga menghasilkan kata-kata yang mudah untuk dipahami.

Seperti yang tertera pada Blurb di cover belakang:
Shahih. Tafsir ini hanya mendasarkan pada hadits-hadits shahih serta membuang riwayat-riwayat isra'iliyyal, sehingga sangat menenteramkan pembaca ketika menelaahnya. Mudah. Bahasa dan pemaparannya sangat mudah, bahkan mudah dipahami oleh orang awam sekalipun.
Sistematis. Karena ditujukan untuk para pembaca masa kini, buku Mudah Tafsir Ibnu Katsir ini dipaparkan dalam format yang sistematis, memperhatikan tanda baca, dan gaya bahasa yang disesuaikan.
Lengkap. Kelengkapan tafsir Ibnu Katsir ini tetap terjaga; ayat-ayat yang ditafsirkan, pendapat Ibnu Katsir terkait ayat-ayat tersebut, serta kesimpulan-kesimpulan ilmiahnya menjadi satu kesatuan utuh yang lengkap disajikan di dalam buku ini.
Shahih, sistematis, dan lengkap. Saya pikir tiga keunggulan itu bisa membuat kita bernapas lega. Sebab, ada beberapa buku sejenis yang saya temui, masih menyisipkan riwayat-riwayat isra'iliyyal. Riwayat isra'iliyyal adalah riwayat yang palsu dan tidak jelas asal-usulnya. Umumnya, penerbit lain memasukkan riwayat isra'iliyyal untuk melengkapi pembahasan dan menunjukkan kepada pembaca bahwa ini adalah riwayat yang tidak benar. Tapi menurut saya, hadirnya riwayat isra'iliyyal di dalam pembahasan justru akan membingungkan pembaca awam. Jadi, keputusan Penerbit Maghfirah Pustaka menghapus riwayat tersebut sudahlah tepat.

Rabu, 26 April 2017

Berbagi Inspirasi Bersama Kika


Cover buku ©2017 Nila Fauziyah

Judul Buku          : Al-Qur’an Inspired Stories: Kika dan Pak Kosah
Kategori                : Fiksi
Penerbit                : Maghfirah Kids
Penulis                  : Dyah Utami Aryanti
Tebal buku           : 24 halaman
Cetakan                : Pertama, Maret 2017
Harga                   : Rp 30.000


Mencari buku anak bernuansa religi sebenarnya tidak terlalu sulit. Apalagi untuk sekarang ini, ketika orang tua mulai memerhatikan dan menyadari betapa pentingnya buku bacaan untuk anak. Penerbit dan penulis seolah berlomba-lomba menyajikan buku-buku yang berkualitas. Saya pribadi senang melihat buku-buku anak bernuansa religi semakin banyak dan berkembang. Terutama buku-buku lokal, yang sebenarnya tak kalah menarik untuk dibaca.

Seperti buku al-Qur’an Inspired Stories: Kika dan Pak Kosah. Dari judulnya kita bisa mengetahui bahwa buku ini berisi kisah-kisah yang terinspirasi dari al-Qur’an. Tapi mengingat target pembacanya berusia 5-8 tahun, buku ini hanya memuat 24 halaman. Jadi, tidak terlalu tebal. Tapi jangan salah, isinya sangat inspiratif dan sarat makna.

Isi buku ©2017 Nila Fauziyah
Buku al-Qur’an Inspired Stories ini punya beberapa seri. Satu seri memuat satu surah al-Qur'an yang akan dibahas bersama Kika dan teman-temannya. Menarik kan? Baru kali pertama, lho ada buku anak semacam ini di Indonesia.

Nah, untuk seri Kika dan Pak Kosah, sang penulis Dyah Utami mengambil surah al-Gaasyiyah sebagai latar belakang cerita. Kisahnya bermula dari gadis cilik bernama Kika yang merasa kasihan kepada Pak Kosah. Pak Kosah ini seorang petugas kebersihan sekolah. Ia terlihat lelah karena pekerjaannya. Tapi tanpa diduga-duga Pak Kosah mendapat piala penghargaan dari Kepala Sekolah. Karena berkat Pak Kosahlah, sekolah Kika bisa menjuarai lomba kebersihan.

Kika pun menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Kemudian sang ibu memberi Kika suatu pandangan yang menarik. Pelajaran berharga mengenai sebab dan akibat, alasan mengapa Pak Kosah pantas mendapat penghargaan tersebut, dan bagaimana cara agar Kika bisa mendapat hadiah surga dari Allah.

Surga? Ya, surga! Kika jadi ingin mendapatkan hadiah surga. Sebab dalam surah al-Ghaasyiyah, Allah menciptakan surga dengan begitu indah, detail, dan sempurna. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Kun fayakun, apabila Dia sudah berkata jadi maka jadilah ...

Yang menarik di sini, selain ceritanya yang mengalir dan sederhana, ilustrasi yang disajikan juga memanjakan mata. Penggambaran surga dan neraka yang sebenarnya agak rumit dibuat menarik sesuai dengan usia anak. Kombinasi yang membuat saya tergelitik, antara religi dan imajinasi anak.

Surga yang penuh kueeee ... ©2017 Nila Fauziyah

Saya pikir buku ini juga cocok dijadikan "dongeng" sebelum tidur. Siapa tahu kisah Kika bisa terbawa ke dalam alam bawah sadar si kecil, kemudian tertanam dan turut membentuk kepribadian anak yang senantiasa merindukan surga.

Oh, iya karena buku ini baru saja terbit, untuk sementara belum ada di toko buku. Kalau mau beli? Datang saja ke Islamic Book Fair (IBF) 2017. Lokasinya di Jakarta Convention Center (JCC). Mulai tanggal 3-7 Mei 2017. Buku ini akan hadir sekaligus dilaunchingkan di sana bersama buku-buku Islam lainnya.

Kalau tinggalnya di luar Jakarta gimana? Tenang ... Setelah launching, buku ini akan mejeng di toko buku. 
Informasi lebih lengkap, kontak ke sini ya: 0857 8171 8161

Selasa, 25 April 2017

"Al-Qur'an" Pertama untuk Si Kecil


Cover buku by ©2017 Nila Fauziyah

Judul Buku : My First al-Qur'an Words: Kata al-Qur'an Pertamaku
Kategori       : Nonfiksi
Penerbit        : Maghfirah Kids
Penyusun      : Syarifah Levi
Cetakan        : Pertama, Maret 2017
Tebal buku   : 20 halaman bergambar
Harga           : Rp 39.000

Menjadikan seorang anak pandai mengaji bukanlah perkara mudah, tidak seperti sulap sim salabim ... anak pandai mengaji seketika. Saya pikir di sinilah peran penting orang tua dalam menerapkan sistem belajar yang sesuai dengan usianya. Mulai dari mengenalkan anak pada huruf hijaiyah, ajarkan cara melafalkannya, kemudian perdengarkan lantunan-lantunan ayat suci al-Qur'an sehingga anak menjadi terbiasa, dan semakin bertambah usia, ajarkan anak membaca iqra, serta bimbing anak dengan buku-buku pendukung lainnya.

Ilustrasi: www.keyword-suggestions.com
Bicara soal buku pendukung, saya menemukan My First al-Qur'an Words: Kata al-Qur'an Pertamaku. First impression, saya pikir buku ini al-Qur'an untuk anak, ternyata bukan. Covernya tebal, tipe hard cover, tapi lembut seperti pelapis pada binder. Gambar pada covernya juga menarik perhatian. Karena memuat ilustrasi kodok dan lebah yang lucu. Judul buku yang "kurus" dan besar dengan latar cover berwarna putih membuat cover ini terasa pas untuk anak-anak tanpa terlihat ramai.

Tapi ternyata bukan hanya cover, kertas bukunya juga tebal. Mengingatkan saya pada buku dongeng anak. Isinya full colour. Setiap halaman menyuguhkan ilustrasi hewan yang lucu-lucu. Sangat memanjakan mata dan tentu saja nyaman untuk dibaca anak-anak.

Satu halaman satu hewan dan pelafalannya diterjemahkan ke dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Meski terlihat seperti kamus, anak tetap bisa menemukan potongan-potongan ayat al-Qur'an di dalam buku ini. Karena pada dasarnya, buku ini memang hendak menyajikan kata-kata yang berhubungan dengan al-Qur'an.

Isi buku ©2017 Nila Fauziyah
Letaknya berada di bawah ilustrasi gambar. Kalau diperhatikan, satu potongan ayat al-Qur'an mengacu dan menyesuaikan ilustrasi tiap hewan. Seperti halaman 7 yang memberi ilustrasi hewan unta:
Dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. (QS al-A`raf [7]: 40)
dan begitu seterusnya.

Mungkin ini kelemahannya. Karena menyesuaikan dengan ilustrasi, potongan ayat al-Qur'an jadi terasa menggantung. Menurut saya, anak bisa tidak menangkap maksud dari potongan ayat-ayat tersebut. Misalnya, pada halaman 7 yang saya sebutkan di atas. Siapa 'mereka' yang dimaksud dalam ayat itu? Kenapa 'mereka tidak akan masuk surga'? Memangnya unta bisa masuk ke lubang jarum?

Tapi yang namanya kelemahan bisa berubah menjadi kelebihan kalau kita pintar-pintar menanganinya. Nah, untuk menghindari kebingungan-kebingungan tersebut, orang tualah yang harus membantu si kecil. Beri penjelasan dan pemahaman, agar potongan ayat yang dibaca oleh anak terserap dengan baik. Dengan sendirinya, dia akan mengingat satu persatu potongan ayat. Lalu, ketika anak mulai bisa mengaji al-Qur'an, dia akan mengenali potongan-potongan ayat yang pernah dia temukan di buku ini.

Oh, iya. Buku ini terdiri dari beberapa serial dan yang saya pegang kebetulan seri Animal.
Animal | Nature | Fruit and Vegetable | Thing | Body 
Cover buku seri NATURE
Karena buku ini baru saja terbit, untuk sementara belum ada di toko buku. Kalau mau beli? Datang saja ke Islamic Book Fair (IBF) 2017. Lokasinya di Jakarta Convention Center (JCC). Mulai tanggal 3-7 Mei 2017. Buku ini akan hadir sekaligus dilaunchingkan di sana bersama buku-buku Islam lainnya. Kalau tinggalnya di luar Jakarta gimana? Tenang ... Setelah launching, buku ini akan mejeng di toko buku.

PS: yang mau titip beli buku ini, bisa tulis di komentar atau kontak ke sini ya 081285663127

Selasa, 31 Mei 2016

Tak Ada Mimpi yang Dicuri, yang Ada Hanya Rasa Iri


Cover novel Mr & Mrs Writer


Judul Buku : MR & MRS WRITER
Kategori       : Fiksi (Novel)
Penerbit        : Sheila
Tahun Terbit : 2016
Tebal Buku   : viii + 408 halaman
Penulis          : Achi-TM
Harga            : Rp 74.000,-

Munculnya novel bertema pasangan muda dan konflik rumah tangga, bukanlah sesuatu yang baru di bidang literasi. Terlihat dari banyaknya novel-novel sejenis yang diterbitkan dalam kurun waktu satu tahun. Terlebih lagi, sebelum menerbitkan novel berjudul Mr & Mrs Writer, sang penulis Achi-TM sudah pernah menerbitkan beberapa novel serupa. Sebut saja Cloud(y), Sun(ny), sampai Insyaallah Sah!. Menariknya, novel Achi-TM ini memiliki warna yang berbeda dibandingkan novel-novel terdahulu.

Cover novel berlatar belakang campuran warna antara biru toska, biru, dan putih, ditambah dengan gambar mesin tik serta buah mangga yang tampak matang. Ukuran font judul juga dibuat cukup besar, seolah sengaja dibuat oleh penerbit untuk mengakali agar cover tidak terlihat kosong. Jadi apabila dilihat secara keseluruhan, cover novel ini sangat eye cathing.

Sesuai dengan judulnya Mr & Mrs Writer, penulis berupaya menghadirkan cerita berbeda mengenai pasangan muda yang berumah tangga. Cerita pasangan yang berprofesi sebagai penulis, Achi-TM seolah ingin membagikan kisah hidup antara dirinya dengan sang suami yang juga berprofesi sebagai penulis. Namun karena genre buku ini fiksi-literatur, maka tidak semua yang tersajikan di dalam novel adalah cerita nyata. Saya sendiri tidak bisa menebak bagian mana yang merupakan kisah nyata, bagian mana yang menjadi imajinasi sang penulis. Maka biar saja, lalu nikmati setiap diksi yang tertera.

Ilustrasi: pz-c-us.blogspot.com

Bab pertama dari novel ini dibuka oleh sosok Ara, tokoh utama yang terlihat begitu gigih mengejar mimpinya. Saat itu, Ara tengah berpacu dengan waktu menuju kantor pos. Hanya tersisa satu jam, kesempatan bagi Ara untuk mengirimkan naskah novel. Apabila melebihi batas waktu yang ditentukan, secara otomatis Ara akan gagal mengikuti seleksi beasiswa menulis. Gadis itu sempat menemui berbagai kendala, mulai dari hujan yang tak kunjung reda, diserempet motor, sampai ceroboh menghilangkan naskahnya sendiri. Namun, di tengah keputusasaan itu, Ara justru bertemu dengan Roy, cinta pertamanya,

Selang dua tahun kemudian, Ara masih belum bisa melupakan Roy. Dunia Ara dipenuhi dengan ambisi menerbitkan novel, mengadakan launching, dan janji menikah dengan Roy! Sayangnya, satu persatu ambisi Ara runtuh. Novel pertama Ara hanya diterbitkan di penerbit kecil yang masih baru, acara launching tidak berjalan lancar, bahkan pengunjungnya hanya satu.

Kemunculan tokoh Ragil ini, menurut saya memiliki peranan penting dalam mengarahkan plot. Lelaki itu hanya seorang tukang kayu, sama sekali tidak menarik minat Ara. Tapi dia berani mengritik pedas karya Ara, bahkan menggodanya.
"Elo siapa, sih? Warga sini juga bukan, gangguin aja." 
"Saya calon warga sini, kok. Sebentar lagi juga akan bikin surat izin menikah di sini, iya, kan, Ara?" 
Sekonyong-konyong tawa Ara seperti dipangkas oleh silet, terbelah dua. Menjelma rasa terkejut yang  luar biasa. Gina tersedak, Ibu dan Bapak yang ada di kursi depan hanya senyum-senyum kecil. Dalam hitungan beberapa detik, satu bus sudah riuh oleh suara ibu-ibu yang menjadi pembenaran. 
"Maksud sampeyan calon suaminya, Ara?" 
"Kapan nikahnya?" 
"Oalaah pantes dia ikutan tur kita." 
Suara-suara lain yang di telinga Ara bagaikan dengung lebah. Ara berdiri dan berteriak. "Bukaaan! Dia bukan calon suami saya!" 
Suasana hening seketika, tapi bus tetap melaju lambat. Semua mata memandang Ara lalu memandang Ragil. Bahu Ara naik-turun. Ia melirik Ragil dan berharap bisa melempar lelaki itu keluar jendela. Tapi sayang, tenaganya tak lebih besar dari tenaga seekor kambing. 
"Lho... kok elo GR, Ra? Kan gue cuma bilang mau bikin surat izin menikah, emang perempuan single di RT ini cuma elo aja, ya?" Ragil tertawa kecil. 
(halaman 76-77)
Hingga mereka akhirnya menikah, dari sinilah konflik bermula. Antara mimpi dan kesetiaan cinta yang bisa membuat pembaca kesal. Ara tidak pernah mencintai Ragil. Ia hanya memandang Ragil sebagai laki-laki yang memiliki pemikiran yang berbeda. Lelaki yang mencurahkan ruh-nya ketika menulis, hingga hasil tulisannya menjadi begitu bernyawa. Cara Ragil mengeja kata-kata membuat Ara terpikat sekaligus merasa iri. Bagimana mungkin seorang tukang kayu bisa mengalahkan perempuan yang notabene pernah mendapat beasiswa menulis? Tapi nyatanya sikap Ara itu disalahartikan Ragil sebagai bentuk ketertarikan dan cinta kepadanya. Ara juga telanjur menyetujui perjanjian bodoh dengan lelaki itu, hingga berakhir pada pernikahan yang sama sekali tidak Ara harapkan.

Ragil tidak peduli jika Ara tidak bisa mencintai dirinya sepenuh hati. Lelaki itu percaya, cinta akan tumbuh apabila dipupuk terus-menerus. Seperti pohon mangga yang diberi pupuk terbaik, bila saatnya tiba mangga tersebut pasti akan berbuah manis.

Sebagai penulis, Achi-TM berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Pergantian suasana dalam novel ini terasa begitu nyata tanpa terkesan mendramatisasi. Cerita yang semula mengocok perut karena keusilan Ragil menggoda Ara, perlahan menimbulkan kekesalan saat Ara bersikap kurang ajar kepada suaminya.
“Seharusnya aku nggak nikah sama kamu! Seharusnya aku nikah sama penulis juga! Sama orang yang sama-sama ngerti gimana susahnya nulis!” Ara menatap nanar Ragil. 
“Sehingga dia nggak dengan gampangnya minta duit sama istri.” 
“Ara, ini nggak akan lama, cuma sampai aku bisa menjual lemari-lemari aku ….” 
“Omong kosong!” 
(halaman 117)
Ilustrasi: www.johnhembree.com

Sayangnya, novel ini memiliki beberapa kesalahan dari segi teknik penulisan. Meski tidak terlalu fatal, namun cukup mengganggu. Misalnya ketidakkonsintenan tokoh dalam memakai kata ganti ‘aku-kamu’ dan ‘gue-elo’. Seperti yang terjadi pada halaman 63:
“Males banget bawa kamu ke pantai, bisa bokek gue. Udah ikutin gue aja….” Ragil mengambil sapu tangan hitam panjang dari saku celana pantainya. “Gue butuh bantuan elo, nih.”
Juga pada halaman 65 dan 69. Kemudian, tanda elipsis (…) yang seharusnya tiga titik kerap bertambah menjadi empat titik (….). Selain itu, masih terdapat kata-kata yang kurang nyambung, seperti halaman 76:
Gina tersedak, Ibu dan Bapak yang ada di kursi depan hanya senyum-senyum kecil. Dalam hitungan beberapa detik, satu bus sudah riuh oleh suara ibu-ibu yang menjadi pembenaran.
Kata “menjadi pembenaran” kurang tepat. Lebih tepat bila diganti menjadi “mencari pembenaran”.

Harga novelnya juga cukup mahal, Rp 74.000,-, tapi kalau dilihat dari ketebalan buku, harga tersebut sebenarnya sangat wajar. Terlebih lagi, novel ini bukan hanya menyuguhkan problematika kehidupan rumah tangga pasangan muda, melainkan pembaca juga diajak untuk “terjun” ke dalam lika-liku dunia penulisan, penerbitan, PH (production house) serta tambahan pengetahuan melalui kedua tokoh utama, tanpa terkesan digurui.
Ara mengeram kesal. “Mentang-mentang tulisan di blog elo bagus terus elo…. Ergh… kasih tahu gue kenapa tulisan elo di blog terasa seperti hidup?” 
“Karena gue menghidupkan hati gue, bukan mematikan hati gue.” 
(halaman 67)

Senin, 30 Mei 2016

Siapkan Nalar! Apakah Mala Benar-benar Indigo?


Cover novel Rumah Lebah

Judul Buku : Rumah Lebah (Rahasia di Balik Wajah-Wajah Asing)
Penulis : Ruwi Meita
Penerbit : Gagas Media
Cetakan Pertama : 2008
Tebal : X + 286 halaman
ISBN : (13) 978-979-780-228-8

Mari kita lihat identitas buku yang saya tulis di atas, buku ini terbitan tahun 2008. Tujuh tahun lalu? Terbitan lama dong? Yup, benar banget. Buku Rumah Lebah-nya Ruwi memang sudah lama terbit, sayangnya saya baru baca sekarang atau mungkin lebih tepatnya saya baru tahu kalau ada novel semacam ini yang kebetulan penulisnya orang lokal alias bukan terjemahan *miris. Tapi tak apa-apa, karena menurut saya buku ini cukup bagus untuk di-review. Dari genre bukunya, bisa dikatakan Ruwi termasuk penulis yang berbeda dengan penulis perempuan lainnya, yang kebanyakan mengambil genre romance, teenlit, young adult, atau fantasi.

Secara garis besar, genre buku ini horror. Detektifnya ada, horror psikologisnya ada, thiller-nya pun ada. Intinya isi buku ini cukup mengejutkan karena sejak awal penulis langsung mengajak pembacanya 'melihat' kejadian mengherankan. Mala, gadis kecil yang tiba-tiba berada di atas atap rumah. Bagaimana dia bisa berada di sana? Padahal saat itu sudah tengah malam, dan dia masih sangat kecil untuk bisa merangkak naik ke atap yang tinggi. Nawai dan Winaya, orang tua Mala, bahkan para tetangga bingung dibuatnya. Sampai-sampai Nawai dan Winaya terpaksa berbohong dengan mengatakan Mala mengalami 'penyakit' tidur sembari berjalan yang akhirnya mengantarkan dirinya sampai ke atap. Benarkah?

Ilustrasi: www.personal.psu.edu

Lalu, penulis meredam rasa penasaran pembaca dengan menyajikan cerita kehidupan keluarga Nawai setelah pindah ke Bukit Mata Kaki. Pada bagian tersebut panulis menggiring pembaca agar satu pemikiran yaitu memvonis Mala mengalami suatu 'penyakit' yang benar-benar serius. Ya, Mala si anak indigo. Begitu yang dikatakan Martha, satu-satunya teman cerita Nawai. Nawai pun tampak mulai goyah apakah Mala benar-benar anak indigo atau bukan, karena Mala selalu menyebutkan nama-nama asing yang dianggapnya sebagai teman khayalan.

Tante Ana, Abuela, si kembar, Willis, dan Satira. Mereka adalah 'hantu-hantu' yang selalu menemani keseharian Mala. 'Hantu-hantu' yang membuat Mala tampak berbeda dengan kebanyakan anak kecil lainnya. Mala yang begitu kaku, formal, tanpa banyak ekspresi, dan jenius, membuat anak-anak lain menganggapnya aneh, bahkan dulu ia sempat bermasalah dengan wali kelasnya yang dianggap 'gila' hormat.

Melompat beberapa bab, penulis mulai mengalihkan cerita Mala dengan kisah Alegra Kahlo, sang artis cantik yang nantinya akan menjadi pemeran utama dalam film yang diangkat dari buku best seller Winaya. Di sini saya sendiri agak bertanya-tanya, apa hubungannya antara konflik yang terjadi pada Alegra dengan kisah Mala dan Nawai? Lalu, kisah kematian Deni, si wartawan gosip yang sempat memeras Alegra, apakah memiliki benang merah dengan cerita awal dibuat oleh penulis? Tapi rupanya itulah hebatnya Ruwi Meita. Jujur, saya sampai berdecak kesal karena tidak berhasil menebak twist ending dalam novel ini. Mengenai 'penyakit' Mala, pelaku pembunuhan kematian Deni, sampai judul dari buku ini sendiri 'Rumah Lebah'. Apa rumah lebah? Siapa sang ratu lebah? Siapa sebenarnya para 'hantu' yang selalu disebutkan oleh Mala?


Ilustrasi: http://proxy-oq.deviantart.com/

Terlepas dari semua kekaguman saya terhadap buku ini. Rumah Lebah memiliki beberapa kekurangan yang terpaksa saya ungkapkan. Cerita pada bagian Nawai berada di rumah terlalu mendetail, sehingga alurnya berjalan begitu lambat dan sedikit membosankan. Lalu, ada gambaran dari novel ini yang kurang mendidik, yaitu membiarkan hubungan di luar nikah seperti yang terjadi pada Nawai dan Winaya, juga Alegra dan Rayhan.

Ketiga... setelah saya searching di internet, buku ini katanya kurang booming padahal ceritanya bagus bahkan nggak kalah sama buku-buku terjemahan. Dan jujur lagi, saya baru tahu Ruwi Meita membuat buku ini setelah saya membaca novel Misteri Patung Garam, tentunya karya Ruwi juga (Azzzz bagian ini bikin saya gemas).

Secara keseluruhan buku ini patut diacungi jempol karena permainan psikologisnya yang mantap!

Mengenal #HIJAB1ST

Yang namanya sesuatu kalau lagi tren pasti diburu ... Begitu pula perihal hijab yang sempet booming banget tahun 2013. Orang langsung berbondong-bondong memakai hijab, style-nya pun mulai bermacam-macam, berwarna-warni, dan lebih fashionable.

Bidang literasi sendiri nggak kalah seru waktu itu. Banyak dari penulis sampai desainer muslim berlomba-lomba ciptakan ide dan kreasi baru tentang hijab. Alhamdulillah kalau bisa sampai menginspirasi, toh berhijab memang suatu kewajiban bagi seorang muslimah kan?

Sebagai penulis, saya termasuk salah satu orang yang kena dampak dari tren tersebut. Etsss ... tapi buku yang saya tulis bukan tentang desain hijab atau model hijab gulung sana-gulung sini lho hehe ...

Cover Antologi #HIJAB1ST

Bersama ke-13 penulis, saya membukukan pengalaman pertama kami ketika berhijab. Ya, pengalaman pertama ... Apa alasan yang melatarbelakangi seseorang memakai hijab? Apa yang membuat orang tersebut bertahan?

Apakah benar-benar hanya sekadar tren yang ketika tren tersebut hilang, maka bisa melepas hijab seenaknya?

Pengalaman ini terbungkus dengan beragam ekspresi. Ada yang cukup melow seperti "Almarhunah Mama, Sumber Inspirasiku" by Nelfi S.

Ada lucu, "Bukan Monyet Berhijab" by Nela Fayza.

Ada yang menginspirasi, "Ziarah Gunung," by Nadrah Chino.

Masih banyak yang lain.

Klik di sini untuk book teaser.

Ada liputan launching buku #HIJAB1ST oleh Nelfi Syafrina.

Lihat review yang ditulis oleh Dewi H.

Lihat juga review Aisyah Dinda.

Berhubung buku ini terbitnya 2013, jadi pasti di toko buku sudah tidak ada. Kalau masih penasaran, teman-teman bisa mencari di toko buku online. :-)

Dari Motivasi Sampai ke Fiksi

Cover buku CeKers Unyu-Unyu

Judul Buku : CeKers Unyu-Unyu
Penulis         : Reni Erina
Penerbit        : PT Elex Media Komputindo
Cetakan        : Pertama 2014
Tebal             : xvi + 158 halaman
ISBN             : 978-602-02-3476-2

Tidak seperti novel-novel pada umumnya, penulis yang lebih akrab dipanggil Bunda Erin ini menyuguhkan cerita yang segar sekaligus inspiratif dalam novelnya yang berjudul CeKers Unyu-Unyu. Memakai latar belakang tempat CK Writing Community / Academy, yaitu tempat yang dijuluki Markas LA oleh para CeKers dan DeKers, Bunda Erin menuliskan satu demi satu kisah yang membuat pembacanya bertanya-tanya, "Tokoh-tokohnya beneran nyata nggak ya?"

Karena kisah yang dituliskan Bunda Erin adalah kisah keseharian para CeKers saat mereka di Markas LA. Mulai dari tokoh Ayka yang doyan banget patah hati, sampai kepolosan tokoh Nata yang bikin orang geregetan.

"Duh, semua berantakan, Kak Niko..."  
"Nata, lo nggak apa-apa, kan?" 

"Sebenarnya aku takut, Kak. Tapi aku coba beraniin diri. Aku ingat pesan Kak Niko tadi, cek kondisi lalu cari bantuan. Aku sudah cek kondisi, Kak. Tapi aku belum cari bantuan. Sebab kata Si Kret cukup kami berdua saja." 

"Nata serius, jangan sok berani!" 

"Aku serius, Kak. Oya, sampai lupa tadi; selamat siang, Kak Niko." 

"Nata! Ya, ampun. Terus gimana sekarang keadaannya? Si Kret gimana?" 

"Sekarang... puaah... aku capek banget, Kak. Kalau Si Kret nggak ada capeknya, dia terus saja memburu..." 

"Nata! Panggil bantuan, segera!" 

"Kata Si Kret nggak perlu, Kak Niko!" 

"Nata, jangan main-main! Gue udah telepon Ayah, dan Ayah menuju ke markas sekarang." 

Di tempatnya, Nata tertegun. "Oo... jadi Ayah juga mau bantuin tangkep tikus sebelum kelas mulai, Kak?" 

"Hah? Maksud lo?" 

--Bab 5 "Ada Penjarah di Markas"

Untuk yang belum tahu, CeKers adalah sebutan untuk anggota yang tergabung di CK Community, sedangkan DeKers merupakan pengasuh-pengasuh komunitas tersebut, termasuk Bunda Erin sendiri.

Ada banyak ilmu yang diberikan para DeKers di CK Community, dan Bunda Erin memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam novelnya. Beragam tips seputar literasi di setiap akhir bab, membuat novel ini seperti buku saku wajib bagi calon penulis. Yang pasti, menyimak setiap cerita di dalam buku ini seperti berada di tengah-tengah keluarga CK Community. Ditambah cover novel yang manis, berwarna pink dengan paduan gambar segelas cokelat panas dan warna-warni Macaron.