Selasa, 29 Oktober 2019

Dukung Minat dan Bakat si Kecil Bersama Frisian Flag Junio



Setelah bayi lahir, peran orang tua khususnya seorang ibu tidak serta merta selesai, lho. Justru, itu adalah awal dari "pekerjaan" mereka dalam memastikan sang anak tumbuh menjadi anak yang terbaik. Terbaik di sini adalah sehat secara fisik, aktif, dan memiliki kecerdasan akal. Lalu, untuk mendapatkan hal itu, orang tua akan memberikan yang terbaik pula. Terutama pada masa-masa emas (golden age) anak, yaitu usia 1-5 tahun. Pada masa itulah terjadi pembentukan otak yang menjadi cikal bakal penentuan anak di masa depan. Misalnya, bagaimana cara anak berbicara, berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, berhitung, dan lain-lain.

Saking pentingnya, banyak sekali profesor maupun dokter yang meneliti persoalan-persoalan mengenai masa-masa emas anak. Salah satunya Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) yang hari Rabu (24/10) lalu memberi pengetahuannya tentang stunting pada di TMII, Jakarta.


Stunting merupakan salah satu dari permasalahan gizi anak yang menyebabkan sang anak mengalami kesulitan untuk bertumbuh. Kerap kali, orang tua salah menafsirkan anak bertubuh pendek dengan stunting. "Tidak semua orang pendek itu stunting," ujar dr. Damayanti.

Karena orang yang bertubuh pendek bisa jadi berasal dari genetik keturunan, sedangkan stunting ditentukan pada 2 tahun pertama sang anak. Tapi yang jadi permasalahan utama bukan soal tubuh pendeknya, stunting juga dapat menyebabkan perkembangan otak anak terganggu.

"Anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, sebanyak 50-60% energi yang ada dipakai untuk perkembangan otak. Bila asupan gizinya kurang, maka otak pula yang akan dikorbankan terlebih dahulu. Lalu, selain ASI, penting bagi orang tua untuk melengkapi kebutuhan gizi seimbang anak, utamanya dengan karbohidrat, lemak, dan protein hewani. Protein hewani menjadi penting karena mengandung asam amino esensial yang membantu pertumbuhan dan kecerdasan otak anak." paparnya lagi.

Selanjutnya, dr. Damayanti juga menyebutkan makanan-makanan yang mengandung protein hewani. Bukan tempe dan tahu, melainkan ikan dan susu.

Kandungan Nutribrain pada Frisian Flag Junio



Senada dengan pembahasan dr. Damayanti, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan nutrisi di masa emas pertumbuhan, PT Frisian Flag Indonesia akhirnya meluncurkan produk susu siap minum terbaru, yaitu Frisian Flag JUNIO.

Berbeda dari produk sebelum-sebelumnya, Frisian Flag Junio menghadirkan manfaat susu sapi yang mengandung asam amino esensial, serta komponen Nutribrain berupa 9 vitamin, 6 mineral, omega 3, dan omega 6, serta komposisi rendah gula. Meski rendah gula, bukan berarti rasa susu ini hambar, lho. Malah Frisian Flag Junio memiliki empat variasi rasa, yaitu plain, cokelat, stroberi, dan pisang.

"Kenapa pisang? Karena buah pisang adalah MPASI pertama yang dikenalkan pada anak, sehingga menjadikannya sebagai produk susu pertama di kelasnya yang hadir dengan variasi rasa ini," ujar  Felicia Julian, Marketing Director Frisian Flag Indonesia.

Dukungan Orang Tua terhadap Minat dan Bakat Anak

Selain pertumbuhan fisik, di usia emas, anak juga memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Orang tua perlu mendukung anak agar berani bereksplorasi. Meski orang tua mungkin punya keinginan dan rencana sendiri untuk masa depan anak, tetapi orang tua juga perlu memberi ruang agar anak bisa bebas dan semangat mencari tahu tentang kesukaan dan bakat yang dia miliki.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro menjelaskan, "Untuk membantu anak meraih minat dan potensi terbaik mereka, penting bagi orang tua untuk menempatkan diri sebagai pembimbing dan pendukung yang membantu menstimulasi proses eksplorasi minat anak. Nutrisi makro dan mikro yang terkandung dalam Frisian Flag Junio berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, aktivitas harian, dan proses eksplorasi anak."

Kehadiran produk ini sekaligus menjadi wujud komitmen PT Frisian Flag Indonesia yang mengusung visi 'Nourishing by Nature' melalui ketersediaan gizi berkualitas bagi keluarga Indonesia.