Senin, 21 Mei 2018

Mendidik Anak Pertama? Be Positif Thinking Bunda

Menunggu kelahiran bayi memang mendebarkan, ya Bun? Tapi mendidik bayi hingga tumbuh menjadi anak dengan kepribadian baik, jauh lebih menegangkan lho. Apalagi jika anak tersebut adalah anak pertama, akan menjadi pengalaman pertama Bunda dalam mendidik anak.

Mungkin Bunda sudah belajar dari pengalaman ibu-ibu lain, tetapi menerapkan dan merasakan sendiri pengalaman-pengalaman tersebut, belum tentu hasilnya sama. Kok begitu? Bunda perlu ingat, tiap-tiap anak adalah individu yang berbeda, sehingga fase pertumbuhan dan psikologisnya pun berbeda. Jadi, Bunda tidak boleh terpaku dengan pengalaman orang lain, apalagi menjadikannya sebagai tolak ukur atas keberhasilan mendidik anak. Misalnya, ada anak tetangga yang berusia 1,5 tahun sudah bisa salim dengan orang dewasa, sedangkan anak Bunda belum. Jangan khawatir! Jangan buru-buru menganggap anak Bunda gagal. Sebab, pemikiran negatif Bunda itu justru akan berdampak buruk bagi si kecil.

Pikiran yang negatif biasanya akan memengaruhi perilaku yang negatif. Jika Bunda sudah berpikiran negatif terhadap anak, maka bisa jadi tindakan-tindakan yang diambil pun cenderung negatif. Oleh karena itu, cobalah untuk senantiasa berpikir positif. Fokuskan perhatian Bunda untuk mendidik dan mengubah akhlak si kecil sesuai dengan akidah Islam yang benar.

Ubah Pikiran Negatif Menjadi Positif

Sebelum mengubah perilaku anak, ubahlah pola pikir Bunda terlebih dahulu. Karena sebagai sosok yang lebih sering berada di sisi anak, Bunda tentu punya peran yang lebih aktif dalam mengubah sifat dan perilaku si kecil.

Berikut beberapa contoh pola pikir negatif yang perlu Bunda ubah:

1. Anak kecil suka sekali meniru orang dewasa. Ketika Bunda suka memegang handphone di dekat anak, baik itu untuk menelepon, chatting, atau menonton video, si kecil akan memerhatikan dan mulai mengikutinya. Suatu ketika ia meniru perilaku Bunda dan menjadi kesal jika tidak diberikan handphone.
  • Pikiran negatif: “Karena aku sering main handphone di dekat anak, dia jadi ikut-ikutan. Sekarang aku pusing sendiri kalau dia sudah nangis. Kalau dikasih, matanya lama-lama bisa rusak. Kalau tidak dikasih, nangisnya akan semakin kencang.”
  • Pikiran positif: “Aku harus bisa menahan keinginan anak untuk main handphone. Dia perlu dialihkan dengan permainan lain yang tidak membahayakan matanya.”
2. Anak mulai terlihat aktif, suka berlari-larian sampai mengacaukan mainan yang sudah Bunda rapikan.
  • Pikiran negatif: “Ya Allah, lama-lama aku bisa gila menghadapi kekacauan yang dibuat anakku. Kenapa dia sangat aktif dan tidak bisa diam?”
  • Pikiran positif: “Ya Allah, anakku aktif banget. Kira-kira dia punya bakat apa ya, yang bisa dikembangkan?”
3. Anak bukan hanya aktif secara fisik, melainkan juga aktif bertanya-tanya.
  • Pikiran negatif: Aduh, kenapa anak ini terus menanyakan hal yang tidak aku kuasai? Menyusahkan saja!
  • Pikiran positif: “Alhamdulillah, ternyata anakku suka belajar. Wawasannya mulai terbuka. Aku harus lebih banyak membaca buku dan artikel agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.”
4. Anak mulai tumbuh sampai merasa dirinya bukan lagi anak kecil. Semakin keras kepala dan tidak mau lagi dibantu orangtua.
  • Pikiran negatif: “Anakku mulai keras kepala! Umur masih kecil saja sudah sok bilang bukan anak kecil. Bikin orangtua khawatir saja!”
  • Pikiran positif: “Waw, anakku sepertinya mulai belajar mandiri. Aku harus mendukungnya, aku perlu mengajari dan memantaunya agar dia tidak melakukan kesalahan.”
5. Anak mulai bertindak di luar aturan dan suka membantah. Kadang-kadang Bunda emosi dibuatnya, ingin marah namun takut menyakiti mental anak hingga akhirnya lelah sendiri. 
  • Pikiran negatif: “Aku capek, anak itu benar-benar tidak bisa menurut kepadaku. Aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, aku menyerah.”
  • Pikiran positif: “Pasti masih ada cara untuk memperbaiki perilakunya. Aku harus bersabar, aku harus kuat, ini hanya masalah waktu. Aku yakin anakku akan berubah.”
6. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bunda di rumah. Mulai dari membereskan rumah, memasak makanan, sampai memandikan anak, Bunda yang melakukannya sendiri. Bunda merasa telah banyak berkorban untuk anak, namun anak lebih dekat dengan ayahnya. Bahkan anak terlihat lebih penurut dengan ayahnya dibandingkan Bunda.
  • Pikiran negatif: “Kurang baik apa aku mendidik anakku? Kurang sabar apa? Mengapa dia hanya menurut kalau ayahnya yang meminta?”
  • Pikiran negatif: “Alhamdulillah, anakku dekat dengan ayahnya. Bagaimanapun ayahnya sudah susah payah bekerja untuk menghidupi kami. Dia juga perlu menyayangi ayahnya, sebagaimana dia menyayangi aku sebagai ibunya.”







***
Sumber: