Selasa, 27 Maret 2018

Antara Plagiasi dan Permintaan Maaf



Belakangan ini sedang ramai kasus plagiasi yang dilakukan oleh perempuan berinisal D. Hampir-hampir mirip dengan Mrs. A yang namanya dulu pernah melambung karena tulisan kontroversial, “Islam Warisan” namun ternyata tulisan itu dinyatakan plagiat.

Sebenarnya dulu, waktu kasusnya Mrs. A, saya merasa kesal juga. Kok ada ya, plagiator yang tidak tahu malu, mentang-mentang diundang ke sana kemari bahkan oleh presiden sekali pun, ketika aibnya terbongkar dia hanya membuat surat permintaan maaf, namun masih juga diselipkan sisa-sisa sifat arogannya.

Waktu itu saya terlalu malas untuk menanggapi kasus Mrs. A, karena anak yang sudah besar kepala seperti itu kalau belum kena batunya susah sadarnya. Tapi kali ini muncul kasus yang serupa, plagiasi puluhan cerpen yang bahkan tulisan-tulisannya bukan hanya tersebar di media sosial, melainkan juga di media cetak koran. Wow ... Setelah satu persatu kasus terbongkar, dia mulai menuliskan surat permintaan maaf secara terbuka.

Dibilang kecewa, pasti! Tapi jujur saya mengapresiasikan niat baik dia dengan adanya surat itu. Pasti butuh keberanian besar, meski di sana tidak dituliskan alasan dia melakukannya. Ini tidak bisa dikatakan khilaf karena lebih dari 20 cerpen, tidak bisa dikatakan khilaf karena dia mendiamkannya lebih hampir empat tahun. Terlepas dari apakah benar dia seorang penulis atau hanyalah pembaca yang ingin berubah status menjadi penulis terkenal, tapi melakukan plagiat tetaplah sebuah penipuan. Mengapa tidak ada sanksi tegas atas kasus penipuan semacam ini?

Saya jadi teringat kisah pemecatan Khalid bin Walid yang dilakukan oleh Umar Bin Khaththab. Berawal dari masa kekhalifahan Abu Bakar, pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Amru bin Ash dan Khalid bin Walid mendatangi Suku Quda’ah dan Bani Asad, dengan maksud menghadapi kaum yang murtad dan mengembalikan mereka pada ajaran Islam yang benar. 
Singkat cerita, setelah Khalid bin Walid berhasil menumpas pembangkangan Bani Asad, kaum Muslimin bergerak maju menuju perkampungan Bani Tamim yang juga melakukan pembangkangan. Malik bin Nuwairah, sang pemimpin Bani Tamim berhasil dibunuh oleh Khalid. Namun, belum juga darah Malik mengering, Khalid menikahi Laila, istri dari Malik bin Nuwairah.  
Tindakan Khalid ini menyalahi adat kebiasaan orang-orang Arab yang seharusnya menghindari perempuan saat peperangan. Apalagi pembunuhan Malik bin Nuwairah itu dilakukan setelah ia menyatakan keislamannya. 
Atas tindakan itu, Khalid dilaporkan kepada Khalifah Abu Bakar. Ada dugaan, Khalid sengaja membunuh Malik dikarenakan sebelumnya sudah lebih dulu mencintai Laila. Ia melakukan tipu muslihat seolah-olah Malik berhak dibunuh akibat pembangkangan. Namun, Khalifah Abu Bakar tak lebih daripada membayar diat (tebusan) atas kematian Malik dan menulis surat agar para tawanan dibebaskan. 
Ada beberapa pihak yang tidak menyukai keputusan Khalifah Abu Bakar, salah satunya Umar bin Khaththab. 
“Pedang Khalid itu sangat tergesa-gesa, tidak ada perhitungan dan harus ada sanksinya,” kata Umar dengan nada meninggi. 
“Wahai Umar! Ia telah membuat pertimbangan tetapi meleset. Janganlah berkata yang bukan-bukan tentang Khalid,” jawab Abu Bakar. 
Pada waktu itu, kaum Muslim sangat membutuhkan Khalid bin Walid dalam kepemimpinan militernya yang jenius. Itu sebabnya, Abu Bakar tidak sampai memecatnya. Namun, Umar tetap saja marah besar kepada Khalid. Umar tidak ingin diam begitu saja melihat orang membunuh seorang Muslim, lalu menikahi istrinya. Sekali pun ia bergelar Saifullah (pedang Allah) dan telah berjasa menumpas kaum pembangkang, tetap saja hukum harus ditegakkan. 
Penegakan hukum bisa dalam kondisi berbahaya jika mulai ada perbedaan dalam memperlakukan manusia. Ada yang dibiarkan melakukan pelanggaran hukum, sementara yang lain dijatuhi hukuman. Umar berpendapat bahwa seseorang tidak lepas dari dosanya sebelum ia menebusnya. 
Sampai tiba masanya, Umar dipilih menjadi Khalifah untuk menggantikan Abu Bakar, hal pertama yang ia lakukan adalah memecat Khalid bin Walid. Khalid sendiri pun tidak marah, ia menerima semua keputusan itu termasuk menyerahkan kepemimpinan perang kepada Abu Ubaidah.

Apa hubungannya?

Memang, kisah pemecatan Khalid bin Walid mungkin tidak bisa disamakan dengan kasus plagiasi Mrs. D. Kisahnya sangat jauh berbeda, tapi ada banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Betapa perkataan Umar itu ada benarnya, 
Umar tidak ingin diam begitu saja melihat orang membunuh seorang Muslim, lalu menikahi istrinya. Sekali pun ia bergelar Saifullah (pedang Allah) dan telah berjasa menumpas kaum pembangkang, tetap saja hukum harus ditegakkan.
Kita tidak bisa membeda-bedakan apakah orang yang melakukan kesalahan itu adalah orang penting atau bukan, orang yang terdekat dengan kita, atau apakah kita mengenalnya atau tidak. Kesalahan tetaplah kesalahan yang harus berikan sebuah hukuman. Hukuman di sini tidak terbatas dengan kata “pidana” ataupun “penjara” meskipun pelanggaran akan kasus plagiasi sendiri sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengaturnya. Tapi, amat disayangkan jika sebuah penerbit malah ikut membela si plagiator hanya karena hubungan kedekatan, seakan menutup mata bahwa yang dilakukan si plagiator itu kesalahan fatal. Jadi, untuk apa ada tulisan “Dilarang memperbanyak isi buku tanpa izin dari penerbit. Hak cipta dilindungi undang-undang.” Kalau bahkan penerbit itu sendiri malah membelanya?

Andai kata, orang yang memplagiat itu tidak dekat dengan penerbit X? Apakah penerbit itu juga akan membelanya mati-matian? Penerbit X pasti punya pertimbangan, seperti Khalifah Abu Bakar yang memutuskan untuk tidak memecat Khalid karena masih membutuhkan jasanya dalam kemiliteran. Tapi apa pun pertimbangannya, saya lebih mendukung keputusan yang dilakukan oleh Khalifah Umar. 

Penerbit buku adalah tempatnya para penulis bisa merasa aman, sebab karya-karya mereka telah diterbitkan secara sah dengan bukti fisik berupa buku. Maka, bukankah sudah sepatutnya penerbit ikut memberi sanksi tegas kepada orang-orang yang melakukan plagiasi? 

Saya tidak meminta penerbit untuk memblacklist Mrs. D. Walaupun setahu memblacklist seorang plagiator bukanlah berita baru, itu sudah umum dan sah terjadi. Misalnya Grup Unsa (salah satu tempat Mrs. D menang lomba menulis) yang akhirnya mencabut gelar runner-up Mrs. D dan memblacklistnya selama 2 tahun. Agar apa? Agar memberi efek jera kepada Mrs. D dan tidak ada lagi orang-orang yang melakukan hal yang sama (memplagiat naskah).
Memblacklist bukan berarti membenci plagiator, melainkan membenci tindakan plagiatnya.
Saya hanya takut, ke depannya ... jika tak ada sanksi tegas, lalu dengan begitu mudahnya seorang plagiator meminta maaf, serta mendapat dukungan dan kepercayaan dari orang-orang terdekatnya, bahkan penerbit yang pernah menelurkan bukunya, plagiator-plagiator di luar sana jadi menggampangkan kejadian ini.
“Ah, tinggal copas naskah orang, kalau ketahuan tinggal bikin surat permintaan maaf terbuka. Nggak perlu mendengarkan omongan netizen yang pedas, nanti hilang dengan sendirinya.”
Lalu, untuk Mrs. D, jadilah Khalid yang berlapang dada. Surat permintaan maaf bukanlah bentuk pertanggungjawaban terakhir, apalagi dijadikan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan mudah, semudah kamu menerbitkan buku dengan cara plagiat. 

Permintaan maaf secara terbuka hanyalah awal, maka perlu dilanjutkan ... Jelaskan dengan gagah naskah mana saja yang sudah kamu plagiat, beritahu orang-orang yang dulu pernah menjadi pembaca setiamu. Lebih bagus lagi kalau kamu bisa mengembalikan semua uang hasil menang lomba ataupun honor hasil plagiatmu itu. Kalau memang tidak bisa, ya saya tidak bisa memaksa, karena kondisi seseorang beda-beda. Tapi saya ingin mengingatkan bahwa uang hasil penipuan itu jatuhnya haram, dan apabila kamu bertobat tanpa mengembalikannya, bisa berubah menjadi utang yang akan terus kamu bawa mati. Kecuali, mungkin pihak yang kamu rugikan mengikhlaskan uang-uang itu.


*** 

Cerita mengenai Khalid bin Walid disadur dari buku the Golden Story of Umar bin Khaththab terbitan Maghfirah Pustaka.

Rabu, 21 Maret 2018

Sajak Indah Tentang Perang Badar



Judul Buku : Kisah Berima Asmaul Husna Al-Fattah
Kategori      : Non Fiksi Anak
Penerbit      : Maghfirah Kids
Penyusun    : Syarifah Levi
Tebal buku : 24 halaman
Cetakan      : Pertama, September 2017

Buku ini sama sekali berbeda dengan buku-buku anak terbitan Maghfirah Pustaka lainnya. Jika pada serial Kika, pembaca disuguhkan cerita petualangan gadis cilik berdasarkan ayat al-Quran. Lalu, AAQ yang mengadopsi konsep komik dan referensi. Buku Kisah Berima ini cenderung menekankan gaya bahasanya yang indah. Ya iyalah, namanya juga kisah berima, otomatis tulisan yang disajikan terkesan seperti sajak-sajak.
Andai kaum Muslim kalah di Perang Badar. 
Islam akan musnah dan tak kan bersinar.
Inilah perang umat Islam pertama kali. 
Agar kalimat tauhid tetap abadi.
Pasukan Muslim sedikit, dengan bekal seadanya. 
Sedangkan musuh banyak, bekal lengkap semuanya. 
Sebagian pasukan Muslim merasa sedih.
Terbayang mereka akan kalah.
(Halaman 10-13)
Membaca sajak dan syair memang menyenangkan. Cerita yang sudah pernah kita dengar sekalipun menjadi berbeda nuansanya, menjadi indah. Namun, yang perlu digarisbawahi tidak semua orang memahami bahasa sajak, terutama anak-anak. Karena bahasa sajak pada umumnya menggunakan kata-kata yang rumit dan berat. Anak-anak tidak suka itu, mereka lebih suka bahasa yang sederhana, to the point, dan bisa dengan cepat mereka tangkap maknanya.

Nah, yang saya suka, buku Kisah Berima Asmaul Husna Al-Fattah ini meskipun bergaya bahasa sajak, kalimat-kalimatnya sederhana dan mudah dipahami sehingga ini bisa menjadi poin plus.


Ilustrasi gambarnya juga menarik, mendukung, dan sesui dengan isi sajak. Sekadar informasi, buku ini berkisah tentang perjuangan umat Muslim melawan musuh kafir dalam perang Badar. Tentu saja dalam buku tersebut ada ilustrasi tokoh-tokoh Muslim, termasuk Rasulullah. Tapi eeiitsss ... Sosok Rasulullah tentu tidak digambarkan secara gamblang, sebab seperti yang kita ketahui beliau adalah manusia agung pilihan-Nya. Rasulullah digambarkan bagai cahaya rembulan dan agar mudah dikenali, ditambahkan bahasa Arab yang bertuliskan nama beliau.


Hal lainnya yang perlu diketahui dari buku ini, meskipun kisahnya tentang peperangan, kita tidak perlu takut memberikan buku ini kepada anak. Karena sejatinya, kisah yang dituturkan di sini jauh dari kata-kata kekerasan. Ilustrasinya pun malah terkesan lucu dan imut. Intinya, semua lebih mengarah pada perjuangan umat Muslim, kepercayaan Rasulullah kepada Tuhannya, dan pertolongan Allah atas kemenangan dalam perang Badar, sehingga disebutlah dalam asmaul husna bahwa Allah adalah al-Fattah, yang berarti Pemberi Kemenangan.

Selasa, 06 Maret 2018

UMAR BIN KHATHTAB: dari Seorang Penentang Menjadi Pelindung Rasulullah SAW





Sejarah hidup para sahabat Nabi merupakan kisah-kisah yang menarik untuk dibaca. Selain tentang kezhuhudan mereka kepada Allah SWT, juga mengenai perjuangan dan ketulusan mereka selama mendampingi Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam.


Salah satu sahabat Nabi yang kisah hidupnya bisa menjadi inspirasi adalah Umar bin Khaththab, sosok yang tinggi, tegap, dan memiliki watak pemberani. Sebelum mengimani Islam, Umar telah lebih dulu dikenal sebagai penentang yang sangat keras. Ia bahkan tidak segan-segan memukuli budak perempuannya yang ketahuan beriman kepada ajaran Nabi SAW dan tidak mau kembali pada ajaran nenek moyang kaum Quraisy.

Yup, dari buku berjudul the Golden Story of Umar bin Khaththab ini, pembaca akan diajak untuk menelusuri masa lalu Umar sebelum ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Tapi meski dulunya Umar seorang penentang, ia tetaplah sosok yang berkepribadian baik. Umar berasal dari garis keturunan suku Quraisy, suku bangsawan dan terpandang di kalangan kaumnya pada masa itu. Keluarga dari pihak ayah maupun ibunya, juga dikenal baik dan bijak dalam mengambil keputusan (kakeknya Umar adalah hakim yang disegani). Umar pun kerap membantu orang-orang menyelesaikan perkara-perkara mereka, ia memuliakan istri-istrinya, dan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Mungkin bisa dibilang, salah satu kesalahan terbesar Umar pada saat itu adalah sempat memusuhi Islam dan Rasulullah SAW.

Umar bin Khaththab Masuk Islam
Makkah di suatu hari. Rasulullah SAW tengah memanjatkan sebuah doa dengan khusyuk. Wajahnya penuh harap doanya terkabul mengingat betapa beratnya tantangan dakwah yang akan dihadapinya. Lantunan kata terucap dari mulutnya. "Ya Allah ... buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini, (yaitu) Amr bin Hisyam atau Umar bin Khaththab." 
Allah subhanahu wa ta'ala mengabulkannya dengan memilih Umar bin Khaththab sebagai salah satu pilar kekuatan Islam, sedangkan Amr bin Hisyam meninggal sebagai Abu Jahal.
- Halaman 17
Bahkan seorang Rasul pun memberikan Umar doa khusus agar cahaya Islam dapat masuk ke relung hatinya. Maka, atas izin Allah, Umar pun masuk Islam. Benar saja, masuknya Umar ke dalam Islam, nyatanya membawa perubahan besar terhadap penyebaran Islam, yang awalnya masih sembunyi-sembunyi, (kemudian dengan adanya Umar) menjadi berdakwah secara terang-terangan. Salah satunya dengan pawai mengelilingi Ka'bah.
Setelah kaum Muslim berkumpul di rumah Arqam, dengan sigap Umar mengumpulkan dan memerintahkan kaum Muslim untuk berbaris. Umar dan Hamzah menyelempangkan busur beserta anak panahnya sambil membawa pedang. Mereka pawai sambil lantang mengucapkan, "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullahu." 
Kaum Muslim yang berada di belakangnya secara serempak membaca apa yang dibaca Umar dan Hamzah. Umar berkata dengan suara lantang, "Siapa yang berani mengganggu salah satu yang ada di belakangku, pedang ini akan menggorok lehernya."
- Halaman 54
Tapi tidak hanya sampai di situ, buku ini juga mengisahkan betapa besar cinta dan ketulusan Umar kepada Rasulullah, sampai-sampai ketika beliau wafat, Umar hampir tidak dapat menahan emosinya. Ia baru bisa ditenangkan setelah mendengar nasihat sahabatnya, Abu Bakar.

Umar juga menjadi orang yang mendukung dan membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah pertama, sebab ia merasa terlalu keras untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, takdir berkata lain ketika Abu Bakar akhirnya wafat, Umar pun akhirnya dibaiat oleh kaumnya untuk menjadi khalifah pengganti Abu Bakar. Begitulah kisah selanjutnya hingga Umar wafat.

Material Book

Buku ini memiliki kualitas yang sangat bagus. Dari segi bahasa, buku ini sangat enak dibaca, bahasanya yang sederhana, dan mudah dipahami. Ada penjelasan atau semacam footnote apabila ada istilah-istilah khusus, tentu saja itu membantu para pembaca awam yang sebelumnya tidak terbiasa membaca buku-buku agama.

Sedangkan dari segi fisik bukunya. Buku memiliki cover yang tebal alias hard cover, hingga menambah kesan bahwa buku ini ibarat sebuah "kitab" yang bisa kita gunakan sebagai referensi untuk mendalami kisah hidupnya sang Amirul Mukminin.


Selain itu, beberapa keunggulan yang bisa pembaca dapatkan dalam buku ini, yaitu:

*Terdapat foto-foto ekslusif
*Terdapat gambar-gambar ilustrasi
*Terdapat tabel dan peta
*Full colour
*Kertas lux licin

Sangat rekomendasi untuk dibaca!

Senin, 08 Januari 2018

Menjemput Hidayah di Awal Tahun

Judul buku : Bertaubatlah Agar Menang Dunia Akhirat
Pengarang  : Dr, Aidh bin Abdullah al-Qarni
Penerbit      : Maghfirah Pustaka
Penyunting : Luqman Junaidi
Terbitan      : Cetakan ketiga, Maret 2006
Halaman     : 344 halaman

Bertaubatlah Agar Menang Dunia Akhirat, sebuah karya yang pas untuk mengiringi niat dan sikap positif di awal tahun. Meski buku ini bukan tergolong buku baru, namun tema yang disuguhkan bersifat timeless. Memang, tidak akan pernah ada masa kedaluwarsa membahas dan membicarakan buku-buku agama, terutama buku tentang bertaubat. Karena sejatinya, manusia tidak akan pernah bisa memprediksi, kapan hidayah akan datang kepadanya. Seorang manusia tidak bisa tahu kapan hatinya akan tersentuh dan matanya menangis karena merasa berdosa. Tapi meski begitu, bukan berarti manusia bisa bersikap masa bodoh.
Jika hidayah tidak kunjung datang, maka kita perlu menjemputnya.
Itu adalah kalimat yang terbesit di benak saya ketika mulai membaca buku ini. Ya, kalau hidayah belum juga datang, sedangkan tahun telah berganti, sedangkan semakin lama usia kita pun semakin mendekati kematian, maka tidakkah kita takut akan tabungan dosa yang telah kita simpan selama ini? Tidakkah kita ingin mendapatkan hidayah lebih cepat? Tapi, kita harus bagaimana?
Rasulullah saw bersabda, “Maukah kutunjukkan padamu sesuatu yang dapat menghimpun semuanya itu?” Mu’adz menjawab, “Ya, Rasulullah.” Rasulullah saw kemudian memegang lidahnya sambil berkata, “Jagalah lidahmu.” 
Hal paling bahaya yang dihadapi manusia dalam kehidupan ini adalah lidah. Atas dasar itulah ulama berkata, “Sembilan dari sepuluh dosa berasal dari lidah.” Dalam ihya’ ‘Ulumuddin, al-Ghazali membagi dosa yang disebabkan oleh lidah ke dalam sepuluh bab. Setiap Rasulullah saw mengingatkan seorang hamba tentang dosa, beliau pasti mengingatkan tentang dosa lidahnya. Sebab, lidah cepat melakukan dosa dan kesalahan. Lidah mudah berbicara tanpa perhitungan, dan mengeluarkan perkataan tanpa perasaan seperti membicarakan orang lain, mengadu domba, mengeluarkan kata-kata buruk, serta ucapan bathil yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka selama 70 musim gugur. - Halaman 45
Sebagai manusia, kita tentu pernah berbuat salah. Entah itu dilakukan dengan sengaja atapun tidak sengaja. Bahkan ketika kita tahu bahwa yang kita lakukan itu salah, kita masih saja mengulanginya. Hal itu bisa disebabkan oleh kurangnya iman kita kepada Allah, kurangnya rasa takut kepada Allah dan terhadap dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Jadi, bukan karena Allah tidak menyukai kita, sehingga Dia menelantarkan kita dari jalan-Nya. Bukan karena Dia membenci kita, sehingga kita tidak mendapatkan hidayah-Nya. Melainkan karena Dia tahu belum atau bahkan tidak ada kebaikan sama sekali dalam diri kita, sehingga hidayah dari Allah tidak juga tersampaikan.
Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dengannya aku diutus, seperti hujan yang mengguyur bumi. Ada tanah subur yang menerima hujan tersebut sehingga menumbuhkan rerumputan dan tanaman yang banyak. Ada juga tanah yang hanya bisa menahan air dan bermanfaat bagi manusia, sehingga mereka dapat minum dan bercocok tanam. Ada juga tanah tandus yang tidak bisa menahan air dan tidak menumbuhkan tanaman. Hal demikian adalah perumpamaan orang yang mengambil manfaat dari ilmu dan hidayah yang dengannya Allah mengutusku, sehingga dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak memperhatikan dan tidak menerima hidayah yang dengannya Allah mengutusku. (HR. Bukhari & Muslim) – Halaman 130
Spesifikasi Buku
Mengenai fisik bukunya sendiri, kovernya terbuat dari kertas tebal alias hard cover. Bergambar seseorang yang tengah bersimpuh dan berdzikir memohon ampun. Warna-warna gelap dipadu dengan cahaya-cahaya yang terlihat samar, membuat kovernya terasa hangat. Nuansa tenang dan khusyuk begitu jelas terlihat di kover tersebut, sangat cocok dengan judul bukunya Bertaubatlah Agar Menang Dunia Akhirat.

Rabu, 29 November 2017

the Golden Story of Abu Bakar ash-Shiddiq



Judul: the Golden Story of Abu Bakar ash-Shiddiq
Penerbit: Maghfirah Pustaka
Penyusun: Dr. Ahmad Hatta, MA, dkk
Penyunting: Saiful Hamiwanto, Ircham Alvansyah, Erwyn Kurniawan
Penata letak: Tim Maghfirah
Terbit: Cetakan pertama, Januari 2015
Jumlah halaman: 212 halaman

Tak pernah ada kata bosan membaca kisah hidup seorang tokoh inspiratif. Terlebih lagi kisah tentang salah satu sahabat Nabi yang begitu hebat mendampingi Rasulullah SAW.  Ialah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Quraisy, atau yang lebih kita kenal sebagai Abu Bakar ash-Shiddiq

Nama ash-Shiddiq sendiri merupakan julukan yang diberikan Nabi SAW kepada Abu Bakar setelah peristiwa Isra Miraj, yaitu ketika orang-orang Quraisy meragukan cerita yang disampaikan Rasulullah, Abu Bakar justru dengan tegas membenarkan cerita tersebut. Sejak itulah,  ayah dari Aisyah (isteri Nabi Muhammad SAW) ini menyandang gelar ash-Shiddiq, yang berarti (berkata benar).


Tapi apa kisahnya hanya sebatas itu?

Tidak! Ada banyak momen emas Abu Bakar yang diceritakan dalam buku terbitan Maghfirah Pustaka. Itu sebabnya, buku ini diberi judul "the Golden Story". Mengupas dan mengisahkan kehidupan Abu Bakar dengan sangat apik, buku ini dipenuhi dengan momen-momen mengharukan sampai yang terasa begitu berat.

Abu Bakar adalah orang pertama yang memeluk Islam, orang yang senantiasa menemani Rasulullah berhijrah, menemani beliau menaiki Gua Hira, menyumbang harta lebih besar daripada sahabat yang lainnya, namun tiada sedikit pun ia merasa sombong dan riya atas pemberiannya.

Ia adalah sosok kepercayaan Nabi SAW yang begitu dihormati dan dikasihi. Rasulullah kerap meminta tolong kepada Abu Bakar, misalnya ketika beliau sakit, beliau pun menunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya sebagai imam dalam salat berjamaah. Saat berhijrah ke Madinah pun, Rasulullah meminta langsung Abu Bakar untuk menemaninya.


Sungguh, sifat ash-Shiddiq dalam diri Abu Bakar membuatnya mampu menjadi cikal bakal seorang pemimpin. Hingga peristiwa menggetarkan itu terjadi, Rasulullah wafat dan para sahabat merasa amat terpuruk, Abu Bakarlah yang tetap tegar.

Nabi mereka memang telah tiada, tapi Islam harus terus berjaya. Abu Bakar pun ditunjuk menjadi khalifah pertama.

Material Book
Selain kisahnya yang menggetarkan, the Golden Story of Abu Bakar ash-Shiddiq ini juga memiliki keunggulan dalam segi fisik bukunya.

Cover tebal (hardcover) ditambah perpaduan warna antara gradasi cokelat dan emas membuat buku ini tampak kokoh dan kuat seperti batang pohon.


Kertas yang digunakan terbuat dari bahan lux dan full colour, hal itu sangat baik untuk meminimalisasi kebosanan kita saat membaca. Tidak lupa, adanya foto-foto ekslusif, tabel-tabel, peta, dan diagram yang membuat buku ini menjadi semakin menarik.



Finally, bahasa yang disuguhkan begitu mengalir dan sistematis. Jadi, cocok untuk dijadikan rujukan bagi siapa pun yang ingin menelusuri kisah dan sejarah hidup Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sabtu, 25 November 2017

Mulutmu Harimaumu, Awas Ada yang Sakit Hati


Judul: Mulutmu Harimaumu, Bahaya Lisan
Penulis: Dr. Umar Abdul Kafii
Penerbit: Maghfirah Pustaka
Penerjemah: Ummu Hasnan, Lc
Editor: Ahmad Faisal
Halaman: 260 halaman
Harga: Rp 56.000

Don’t judge a book by cover. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan buku Mulutmu Harimaumu, Bahaya Lisan terbitan Maghfirah Pustaka ini. Karena jujur, saya kurang suka dengan gaya ilustrasi dari cover buku tersebut. Rasanya kurang pas menyandingkan judul buku yang berisi teguran dengan ilustrasi yang terkesan humor.

Garis-garis ilustrasi yang menggambarkan kepala manusianya justru mengingatkan saya dengan komik strip di koran-koran. Sisi humor dan sarkastik dari ciri khas gambar ini sudah tertanam di benak saya, sehingga membuat saya menilai ilustrasi covernya kurang pas. Ditambah font judulnya yang kurang menarik, membuat saya sempat enggan untuk membaca bukunya.

Tapi, sekali lagi don’t judge a book by cover, kita tidak bisa menilai buku ini dengan baik jika tidak melihatnya secara keseluruhan. Apalagi sebenarnya buku ini memiliki tema yang bagus. Cocok dengan kondisi kehidupan masyarakat modern zaman sekarang. Sedikit-sedikit nyetatus, sedikit-sedikit posting di media sosial. Bahkan terkadang, tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, kita langsung nge-share info-info yang bisa saja hoax alias berita palsu.

Lalu, ujung-ujungnya ketika ada komentar yang tidak sepaham dengan kita, kita akan marah dan memperdebatkan hal itu sampai kita menang dan merasa puas. Nauzubillah minzalik ...

Dalam al-Qur’an dikatakan bahwa:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu  tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (al-Hujurat [49]: 6) - halaman 39
ISI BUKU
Buku ini memang bukan sekadar buku non-fiksi biasa. Buku ini adalah suatu pemikiran cerdas dari penulisnya, Dr. Umar Abdul Kafii mengenai seberapa bahayanya lisan manusia. Bak sebilah pedang, lisan manusia itu sangatlah tajam. Kalau kita tidak berhati-hati menjaga lisan, kita bisa menorehkan luka di hati sesama. Kalau tidak berhati-hati, kita bisa menimbulkan gosip, fitnah, dan segala macam keburukan yang bukan hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga orang lain yang menjadi lawan bicara dan kita bicarakan.

Dalam buku ini dijelaskan, bahwasannya hubungan rumah tangga suami-istri bisa hancur gara-gara lisan. Seorang anak bisa menjadi durhaka kepada orangtuanya gara-gara lisan. Hubungan silaturahmi pun bisa putus gara-gara lisan.

Kita mungkin beranggapan, menjaga lisan adalah hal yang mudah. Asal tidak mengatakan hal yang buruk kepada orang lain, bertutur kata lembut, dan sopan itu sudah cukup. Tapi kenyataannya, persoalan menjaga lisan tidak hanya sebatas itu. Terkadang tanpa sadar, ketika kita berbuat baik kepada seseorang, kita mulai mengungkit-ungkit kebaikan tersebut di depan orang lain atau malah orang yang kita tolong.


Niat hati mau membanggakan diri, tapi lisan yang dipenuhi kesombongan itu perlahan membuat hati kita jemawa, mudah merendahkan, dan meremehkan orang lain.
Diibaratkan, jika minuman keras adalah induknya dosa besar, maka sombong adalah bapaknya dosa besar. - halaman 49
Sedangkan dalam Islam, seseorang yang menyimpan kesombongan sekecil apa pun di dalam hati mereka, tidak diperkenankan masuk surga. Apalagi yang sampai dikeluarkan melalui mulut?

Pada intinya, pembahasan mengenai perkara menjaga lisan ini memang sangat kompleks. Satu sikap mempengaruhi sikap yang lain. Namun, yang saya suka, buku ini mampu menuturkan akar permasalahan yang disebabkan oleh lisan dengan baik. Penjelasannya tidak bertele-tele, lugas, dan enak dibaca oleh orang awam seperti saya sekalipun.

Juga buku ini tidak banyak mengutip ayat al-Qur’an yang tidak penting atau sekadar tempelan. Sehingga setiap kali dimunculkan ayat al-Qur’an yang mendukung opini si penulis, isi buku ini jadi terlihat lebih berbobot.

Jumat, 24 November 2017

Kids Zaman Now Harus Punya POWER


Judul: MUSLIM KIDS POWER
Penyusun: Sakti Okihanto (Mr. Pret)
Editor: Syarifah Levi
Proofreader: Saiful Hamiwanto
Ilustrator: Agi Sandyta
Jumlah: 48 halaman
Harga: Rp 39.000

“Teman-teman yang hebat, Allah SWT dan Rasulullah SAW menyukai anak-anak Muslim yang memiliki POWER. Sahabat Rasulullah SAW dan orang Shalih pun memiliki sifat POWER ini, sehingga mereka menjadi Muslim terbaik sekaligus teladan sepanjang masa. Kalian mau menjadi anak-anak Muslim terbaik di hadapan Allah SWT dan memiliki POWER?”

Kalimat di atas adalah blurb dari buku inspirasi karya kak Oki alias Mr. Pret. Pria kelahiran Jakarta ini memang lebih dikenal sebagai pendongeng. Dia sudah menjelajahi sekolah-sekolah sampai perusahaan-perusahaan, dari pulau Sumatra sampai Papua untuk mendongeng. Untuk kali pertamanya, Mr. Pret akhirnya menerbitkan sebuah buku berjudul Muslim Kids POWER.

Tapi, POWER? Maksudnya bersemangat  dan penuh kekuatan gitu ya? Cocok sih dengan covernya yang dominan berwarna merah. Karena warna merah sendiri menggambarkan emosi yang meluap-luap dan semangat yang berapi-api. Ditambah lagi adanya ilustrasi dua anak muslim dan muslimah yang terlihat tegap dan serius. Seolah buku ini ingin mengajak pembacanya ikut bersemangat, penuh kekuatan, dan tegas menjalani kehidupan sehari-hari sebagai anak Muslim.

ISI BUKU
Sayangnya, persepsi awal saya tentang buku ini tidak sepenuhnya benar. Power yang dimaksud tidak sesederhana itu. Kata POWER di sini merupakan akronim yang masing-masing hurufnya memiliki makna tersendiri.

P adalah Pemberani


Pemberani itu artinya punya hati yang mantap dan percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya. - Halaman 6
Salah satu tokoh yang memenuhi kriteria Pemberani adalah Umar bin Kaththab. Dia adalah khalifah kedua yang terkenal sangat tegas dan pemberani.

Dulu sebelum masuk Islam, Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Namun, sejak Umar mengucapkan dua kalimat syahadat, ia mengusulkan Nabi SAW untuk berdakwah secara terang-terangan. Keberanian Umar tentu saja mengundang kekesalan kaum Quraisy, tapi musuh-musuhnya itu segan kepada Umar. Bahkan jin dan setan takut lho melihat Umar. Karena Umar adalah salah satu umat Rasulullah yang tidak takut kepada apa pun, kecuali Allah SWT. Sehingga ke mana pun Umar pergi, dia percaya bahwa Allah SWT senantiasa bersama dirinya. Masya Allah ...

Lalu, ada lagi kisahnya Khalid bin Walid, seorang panglima perang Islam yang selalu membawa kemenangan dalam setiap peperangannya. Khalid adalah sosok yang gagah berani, cerdas, dan pejuang sejati. Saking pejuangnya sampai-sampai dia menyesal dan memohon ampun kepada Allah. Menyesalnya bukan lantaran apa-apa, melainkan dulu sebelum Khalid masuk Islam, ia memimpin peperangan melawan Islam dalam Perang Uhud. Nah, dalam peperangan tersebut kelompok Khalid yang awalnya mengalami kekalahan akhirnya berhasil menaklukkan kelompok Muslim. Penyerangan yang dilakukan Khalid dan kelompoknya bahkan sempat melukai Rasulullah SAW. Setelah masuk Islam, dia pun mulai menyesali perbuatannya.

Selain dua tokoh di atas, masih banyak tokoh-tokoh lain yang diceritakan dalam buku Muslim Kids POWER. Itu pun baru P (Pemberani), masih ada O-W-E-R. Jadi, OWER-nya apa? Silakan baca bukunya sendiri ya, yang pasti buku ini sangat menarik. Kertasnya yang glossy dan isi bukunya yang full colour membuat anak-anak nyaman membacanya. Kisah-kisah yang disuguhkan juga insyaAllah menginspirasi karena true story, bukan tokoh khayalan seperti pahlawan-pahlawan superhero buatan negeri Hollywood. Juga, dengan membaca buku ini, kita bisa mengenal lebih banyak lagi nama-nama tokoh dalam Islam termasuk para khalifah dan sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW.